Makam Siti Fatimah Binti Maimun

Siti Fatimah binti Maimun lahir pada tahun 1064 M yang merupakan anak dari pasangan Syekh Maimun atau Sultan Mahmud Syah dari Iran dan Aminah dari Aceh. Beliau datang ke Jawa dan akhirnya menetap di Desa Leran.

Di desa inilah kemudian Siti Fatimah binti Maimun tinggal dan menyebarkan ajaran islam hingga beliau wafat dan dimakamkan di sana. Makam Siti Fatimah binti Maimun terletak di dalam sebuah cungkup. Cungkup tersebut berbahan batu kapur yang diambil dari gunung Suci (desa Suci-Manyar). Berbeda dengan bangunan makam aulia pada umumnya, cungkup tersebut dibangun menyerupai sebuah candi pada masa Hindu-Budha. Konon, cungkup tersebut dibangun oleh seorang Raja Majapahit yang beragama Hindu yang dulu hendak mempersunting Siti Fatimah binti Maimun atau dikenal juga dengan Dewi Retno Suari. Kedatangan Siti Fatimah binti Maimun ke Majapahit sendiri adalah diutus oleh ayahandanya Sultan Machmud Syah Alam untuk mengislamkan raja Majapahit tersebut sebagai prasyarat kesediaannya untuk diperistri. Namun, utusan yang menyampaikan hal tersebut justru diperlakukan dengan tidak layak oleh Raja Majapahit. Sehingga untuk menebus rasa bersalahnya dia membangun cungkup makam Siti Fatimah binti Maimun tersebut. Oleh karena itulah arsitektur bangunan cungkup tersebut dipengaruhi oleh Hindu.

Kawasan makam Siti Fatimah binti Maimun dikelola oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan sejak tahun 1973 dan ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Cagar Budaya Nasional dan makam beliau ditetapkan sebagai makam islam tertua di Asia Tenggara.

SITI FATIMAH BINTI MAIMUN TOMB

Siti Fatimah binti Maimun was born in 1064 M from her father Sheikh Maimun or Sultan Mahmud Syah from Iran and her mother Aminah from Aceh. In this village, then, Siti Fatimah binti Maimun was staying and preaching Islam until she died and was buried in that village.  

            Siti Fatimah binti Maimun’s tomb is placed in a cungkup or dome.  That tomb dome was made of white stone which was taken from Suci hill in Suci village, Manyar. Different from other Islamic leader tombs, Siti Fatimah binti Maimun’s tomb dome was built looked like temple dome in Hindu and Budha cultures. Purposely told that, the dome was built by King of Majapahit who was a Hindu adherent, and who intended to propose Siti Fatimah binti Maimun or well known also as Dewi Retno Swari as his wife. The visit of Siti Fatimah binti Maimun in Majapahit herself was to obey her father’s order to preach Islam to King Majapahit as the requirement of their marriage. But, when Siti Fatimah binti Maimun ordered one of his loyal messengers to tell that requirement, he was treated improperly. So that, in order to pay his regret on his past bad treatment, the King of Majapahit built that tomb dome. Therefore, that tomb dome style was influenced by Hindu architecture.

            The area of Siti Fatimah binti Maimun’s graveyard has been being managed by BPCB Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur (heritage preservation authority in East Java) since 1973 M and was proclaimed as one of National Heritage Area and was proved by the historical proclaimed that stated her tomb as the oldest Islamic tomb in Southeast Asia.

Related Posts

Leave A Comment