Telaga Pegat

Untuk masyarakat Giri mungkin sudah tidak asing lagi dengan nama tersebut dan orang-orang sekitar menyebutnya TELOGO PEGAT. Dari cerita orang setempat, termasuk cerita sesepuh banyak sekali hal-hal yang tidak masuk akal.

Telaga Pegat dipercaya merupakan warisan dari Sunan Giri yang harus dilindungi kelestariannya. Para peziarah kompleks pusara Sunan Giri dan keluarganya, boleh jadi tidak mengetahui keberadaan telaga ini. Hal itu terlihat dari sepinya jumlah pengunjung yang ada di danau itu, seperti yang saya amati ketika mengunjunginya beberapa waktu lalu..

Istilah “Telaga Pegat” merupakan istilah dalam Bahasa Jawa yang artinya danau cerai. Kata pegat berarti cerai.

Cerita tutur dari waktu ke waktu yang berkembang di masyarakat Gresik menyebutkan kalau Telaga Pegat itu merupakan danau kecil yang menjadi pemisah antara Gunung Patireman dan Gunung Bagong. Saya sendiri tidak tahu persis di mana posisi sebenarnya dari kedua gunung itu. Setahu saya juga tidak terlihat gunung di dekat telaga tersebut.

Ada juga yang mengatakan kalau telaga ini sengaja dibangun Sunan Giri untuk memenuhi kebutuhan air para santri beliau. Mengingat kala itu santri sang sunan banyak sekali jumlahnya dan datang dari berbagai penjuru negeri termasuk dari mancanegara.

Sunan Giri yang waktu itu menancapkan tongkat dilokasi tersebut hingga keluar air banyak sekali namun air tidak bisa meluber/meluap dan airnya juga tidak bisa abis/surut, meskipun pada musim kemarau yg panjang.

Bagaimana keadaan Telaga Pegat sekarang? Ada semacam rasa keprihatinan dalam hati begitu melihat keadaan telaga tersebut, yang kadang di musim hujan banyak sampah yg berserakan di sekitar Tlogo, belum lagi tumbuhan liar eceng gondok, kangkung dll. yang memenuhi seluruh permukaan telaga tersebut.

Related Posts

Leave A Comment