Penghargaan Seni Untuk Mbah Mat Kauli (Maestro Macapat Gagrag Gresik)

Kabar bahagia datang dari salah satu seniman Gresik, Mat Kauli. Sabtu, 13 November 2021 kemarin, Mat Kauli mendapatkan penghargaan seni dari Dewan Kesenian Jawa Timur. Beliau merupakan salah satu dari 3 (tiga) seniman terpilih dari puluhan nominasi yang diajukan dari seluruh Kabupaten / Kota di Jawa Timur.

Mat Kauli adalah Seorang pegiat seni Macapatan Gresik kelahiran 1 Mei 1931. Beliau belajar macapat langsung dari alm Ayahnya, Niti Sastro Samardi, sejak usia 17tahun. Mat Kauli disebut sebagai penerus Almarhum Mbah Nurhasyim, salah satu pembaca macapat asal Desa Lumpur Gresik yang membawakan Macapat dengan Cengkok Pesisiran. Macapatan merupakan tradisi Gresik sejak zaman Sunan Giri. Berdasarkan sejarah, Sunan Giri lah pencipta dari Gendhing Asmaradhana dan Pucung yang menjadi beberapa jenis macapat paling digemari oleh masyarakat. Mat Kauli hanyalah seorang lulusan dari Sekolah Rakyat (SR) Tingkat III. Kini beliau memiliki 28 cucu dan 13 cicit.

Mat Kauli adalah satu-satunya pelantun macapat gaya Gresik yang masih tersisa. Beliau juga merupakan salah satu seniman macapat Gresik yang mengulas kisah Sunan Giri di dalam Serat Centhini. Selain itu Mat Kauli menyimpan beberapa naskah tua dalam Aksara Pegon dan Jawa yang bisa ditemui di kediamannya di Desa Gemantar (Gumantar) Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik.

Mat Kauli telah aktif bermacapat sejak tahun 1949 dan masih terus berkarya hingga sekarang. Beliau sangat ingin tradisi macapatan, khususnya macapat Gresik tetap lestari. Di usianya yang senja, beliau tetap aktif mengisi acara macapatan di berbagai tempat di Gresik bahkan di luar kota. Saat ini beliau rutin mengisi acara di kantor Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik. Di sana ada beberapa orang yang belajar membaca tulisan aksara Jawa kuno.

Selain mengajar tanpa pamrih, beliau juga rela menulis ulang buku peninggalan almarhum ayahnya Niti Sastro Samardi. Mat Kauli mengalihaksarakan huruf Jawa ke tulisan Latin dengan tujuan agar semua orang bisa membaca bunyi tulisan meskipun tidak tahu artinya. Untuk menyelesaikan misi itu beliau bekerja siang hingga malam. Beliau membutuhkan waktu sekitar 14 bulan mulai dari 10 Juli 2010 sampai 10 Agustus 2011 untuk menuntaskan pekerjaan tersebut. Buku yang dalam bahasa Jawa hanya setebal 995 halaman itu bertambah menjadi 2.222 halaman setelah diterjemahkan dalam huruf Latin karena banyak ungkapan dalam aksara Jawa yang perlu penjelasan panjang lebar dalam huruf Latin.

Serat Babad Pajang Mataram yang tercetak dalam tiga jilid buku dan tebal-tebal, beliau sendiri yang menjilid buku itu tanpa bantuan siapa pun. Serat Babad tersebut banyak kisah tentang kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa. Mulai Majapahit yang bercorak Hindu-Budha sampai kerajaan Islam Mataram dan Demak. Serat Babad Pajang tersebut sudah berupa huruf Latin jadi semua orang bisa membacanya. Selain Babad Pajang Mataram, Serat Ambiya’ juga telah dialihaksarakan ke huruf Latin. Buku yang semula ditulis dalam aksara Arab pegon itu diterbitkan pada 1760 dan kini kitab tersebut sudah berusia 257 tahun. Yang mengalihaksarakan buku itu adalah alrmarhum Hadisoedarto yang masih kerabat Mat Kauli dari Kelurahan Pekelingan, Gresik.

Mat Kauli sering tampil di berbagai kegiatan seperti kegiatan Gresik Heritage Trail yang merupakan rangkaian kegiatan “Temu Pusaka Indonesia 2012 yang digelar oleh Badan Pelstarian Pusaka Indonesia (BPPI) atau “Indonesia Heritage Trust”. Pada kegiatan tersebut, beliau mengulas kisah Sunan Giri di dalam Serat Centhini. Selain itu beliau juga ikut serta memeriahkan kegiatan Festival Gresik DJALOE-Djaman Doeloe II 2013. Kegiatan ini bertujuan menjadikan Gresik Kota Lama sebagai salah satu dari Warisan Pusaka Dunia (Heritage World). Mat Kauli juga merupakan pelantun macapat pada acara Haul Sindujoyo sejak 15 tahun lalu hingga sekarang. Beliau juga pernah menjadi narasumber utama film dokumenter maestro macapat gagrak Gresik program dari Museum Daerah Sunan Giri Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gresik.

Yuk, lestarikan budaya daerah kita!

Related Posts

Leave A Comment