TRADISI KUPATAN

Malam ketujuh setelah Hari Raya Idul Fitri (9/5), kemeriahan begitu terasa di Bekakaan, Kabupaten Gresik. Jalanan tumpah ruah oleh orang-orang, baik tua maupun muda. Pada ruang tamu tiap-tiap rumah juga tak pernah sepi oleh orang-orang yang berkunjung dari luar daerah maupun tetangga dekat, bersilaturahmi sambil menyantap ketupat yang disiram opor sayur dan berbagai macam sajian penganan lain. “Tradisi kupatan,” ucap Ibu Aminatus Sholicha menjelaskan kemeriahan daerah tempat tinggalnya. “Tradisi ini sudah lama dijalankan sejak Mbah Baka masih hidup, menyebarkan dan mengajarkan Islam di daerah ini,” lanjutnya merujuk pada pelopor tradisi Kupatan di daerah Bekakaan, seorang kyai yang dimakamkan tak jauh dari Alun-alun Kabupaten Gresik dan dari nama Kyai Baka lah nama daerah Bekakaan berasal.

Setelah enam hari puasa Syawal yang dilakukan setelah Hari Raya Idul Fitri, Kupatan bagaikan waktu berbuka bersama masyarakat setempat. Hidangan yang khas saat Kupatan, seperti namanya, adalah ketupat yang dimakan bersama opor. “Bentuk ketupat yang terbuat dari janur (daun kelapa muda) yang saling menjalin, menyimbolkan eratnya silaturahmi masyarakat setempat,” ucap Bapak RW 1 Bekakaan, Ahmad Yani menjelaskan filosofi hidangan ketupat.

Saat ini hidangan Kupatan tidak hanya ketupat dan opor, hidangan lain seperti nasi briyani, bakso, dan sate juga disajikan. Dengan alasan kepraktisan, ketupat juga disertai lontong. Namun, eratnya kebersamaan dan kemeriahan Kupatan di Bekakaan masih sama.

Related Posts

Leave A Comment