Pencak Macan

Pencak macan adalah salah satu seni tradisi yang dimiliki oleh Kabupaten Gresik. Pencak Macan ini terdapat di wilayah pesisir utara Kabupaten Gresik. Seni tradisi ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, namun penyebutan seni tradisi ini beragam, dipengaruhi bahasa daerah setiap desa (macanan, pencak macan, dll). Dinamakan pencak macan dikarenakan dalam alur cerita, atau isi dari tampilan seni tradisi ini peran yang sangat penting dan dominan adalah macan kuning.

Dalam seni tradisi pencak macan terdapat beberapa pemeran yaitu macan kuning (pengantin pria), kera (pengantin wanita), macan putih (ajaran agama / ilmu), pendekar (tokoh agama), 2 genderuwo (godaan dan cobaan)

Isi dari pencak macan ini adalah nasihat bagi para manusia yang menjalankan kehidupan sehari-hari, khususnya bagi para pasangan yang baru saja mengarungi bahtera rumah tangga. Pencak macan juga sering kita jumpai dalam acara perayaan pernikahan, sebagai iringan pengantin maupun pentas dan juga berbagai even yang diselenggarakan oleh pemerintahan.

Dalam alur cerita pencak macan, macan kuning sebagai pengantin pria yang baru saja menjalani bahtera rumah tangga dengan seekor monyet (pengantin wanita) hidup rukun dan harmonis, namun seiring waktu berjalan mereka berdua terlibat dalam pertengkaran yang disebabkan oleh godaan atau cobaan yang di dalam penampilan digambarkan oleh dua genderuwo yang menari riang dan lincah. Semakin riang dan lincah genderuwo menari pertengkaran antara macan kuning dank era semakin tak bisa dihentikan.

Namun saat pertengkaran berlangsung datanglah macan putih yang merupakan ilmu atau ajaran agama yang dimiliki oleh kedua pasangan tersebut namun pertengkaran tersebut tidak bisa terhenti, hingga datanglah seekor pendekar yang melambangkan seorang tokoh agama yang mencoba merendahkan emosi dari pertengkaran tersebut, dan pertengkaran pun terjadi antara macan kuning dengan pendekar dan macan putih mencoba merendahkan emosi kera, melihat pertengkaran itu dua genderuwo pun semakin riang lincah menari membakar amarah dan emosi dari macan kuning dan juga kera.

Seiring pertengkaran terjadi akhirnya macan kuning pun bisa ditaklukkan oleh pendekar tersebut dan gerakan dua genderuwo pun semakin melemah dan merasa kalah oleh ajaran dan ilmu agama yang dimiliki oleh pendekar tadi. Oleh sebab itu, sangat penting ajaran sebuah agama sebagai bekal dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari khususnya bagi pasangan yang mengarungi bahtera rumah tangga.

Tanggal 22-23 November 2019 yang lalu, Persatuan Seni Tradisi Lumpur Gresik didukung oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gresik serta beberapa perusahaan di kawasan Gresik melaksanakan Festival Pencak Macan ke-9 di Tempat Pelelangan Ikan Desa Lumpur, Kecamatan Gresik. Dalam Festival tersebut diikuti oleh 20 grup peserta yang berasal dari beberapa kecamatan di Kabupaten Gresik. Kemudian dari 20 grup peserta yang tampil pada hari pertama disaring menjadi 6 grup peserta yang bertarung pada final di hari kedua. Peserta Festival Pencak Macan ini dibatasi maksimal usia 15 tahun. Dengan adanya festival ini diharapkan seni tradisi pencak macan tetap bertahan dan bisa terus berkembang dengan baik tidak hanya di tempat asalnya Desa Lumpur, Kecamatan Gresik tapi juga di kecamatan lain.

 

Post Author: disparbudgresikweb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *